Senin, 27 Desember 2010

Impian Rindu

setidaknya aku sudah mulai jujur dengan perasaan ini
berulang ku bohongi hati
mengayuh langkah untuk menguak kebenaran
terkelu lidah untuk berucap

indah seperti tampak buram
dan terasa samar - samar dititik cahaya terang

sang penulis kini tak mampu lagi menulis
bukan karena tak ada inspirasi
namun karena hati yang sedang tak menentu
ini bukan dari akhir segalanya
tapi tidak tahu apakah awal dari keterpurukan atau kebahagiaan

kuiringi kaki menuju lorong hati
namun tak ku temukan jawaban yg kuiingini
karena hatiku masih terlalu angkuh


kucari dalam jerami
kusapu kabut ber uap
ku ukir dalam khayalan
kunyanyikan dalam irama




namun masih kudisini dengan keangkuhan
fajar berganti senja
melalui desiran angin lembut sampai menyapa mentari
ditengah keramaian berdiri tegak
bersama senyuman yang tak mengandung arti
merasa tak adil dalam hati

dimana perhentian akan berlabuh
terminal hati belum ku jejaki
samudera kasih belum ku temukan
luasan cinta belum terselami

dingin menyapa dari sudut dinding bambu
bersinarkan lentera redup
kian mencekam kedalam angan
sampai tak mampu mata menutup

langkah terayun seperti gontai
pilar tak mampu menopang tiang
tak ada sandaran
kosong di ruang hampa

impian rindu yang tak pernah terwujud
semusim telah berganti
ribuan bahkan mungkin jutaan kata telah di ukir dalam hati
namun tak dapat mengihiasi kata yang terindah saat berucap

aku bukan bidadari
yang mampu menjelma disudut hati yang menginginkan cinta
hanya mampu terdiam dan menyimpan rasa
dan seandainya  itu menghampiri
mungkin hanya bisa menjalani dengan hati dan bukan dengan rasa
maafkan jika tak mampu berkata apa yang aku dan kamu rasa
biarkan hati ini yang menjawab semuanya