Sebuah Akhiran
Kali ini adalah ketiga kalinya aku membaca buku ini…………………………………
Sebagaimana pengelana di padang pasir berjalan mengumpul
Dalam caravan – caravan besar karena takut pada perampok dan binatang buas,
Demikian orang – orang pada generasi sekarang takut pada eksistensi,
Karena eksistensi ini telah ditinggalkan oleh Tuhan.
Hanya dalam kelompok besar dan kerumunan.
Mereka berani Hidup.
Mereka berkumpul dalam kerumunan agar dapat merasakan bahwa
mereka telah melakukan sesuatu.
Hari sudah hampir malam… Tiba – tiba Ibu menyapa ku dengan suaranya lembutnya.
“Kakak” begitulah selalu ibu memanggilku …. Kenapa kamu belum bersiap – siap buat ke mesjid, hari ini kan hari pertama kita taraweih besok kita sudah memasuki Ramadhan pertama.
“ Sambil menutup buku aku meng iya kan perkataan ibu dan mulai bersiap – siap untuk taraweih ke mesjid” dalam hati aku berkata – kata, Alhamdulillah Ya Allah…aku dipertemukan kembali dengan Ramadhan tahun ini,
Disepanjang perjalanan menuju mesjid, aku bertemu dengan orang – orang dengan berbagai kegiatan, ada yang sama seperti aku sedang menuju ke mesjid dengan menggunakan perlengkapan sebagaimana seorang muslim akan menghadap Tuhannya, tapi ada juga orang yang tidak menghentikan kegiatannya. Masyaallah .… kembali aku berbisik dalam hatiku, ini Ramadhan bulan yang penuh ampunan yang hanya kita dapati sekali dalam setahun, kenapa mereka tidak memanfaatkan bulan yang penuh berkah ini, padahal orang lain selalu merindukkannya bahkan menyambut dengan sangat amat gembira. Tapi ya sudahlah…mungkin mereka belum bisa mengarti kan apa itu Ramadhan yang penuh berkah ini…Dimana dibukakan oleh Allah semua pintu maaf dan dilipat gandakan amal ibadah dari seseorang.
Sesampai di mesjid aku membentangkan sajadahku dan memulai sholat Sunnah sebelum melakukan Sholat Isya…. Terdengar suara imam berkata kepada makmum untuk meluruskan shaff………Isya pun selesai, sebelum memulai taraweih seperti biasa sama seperti tahun – tahun sebelumnya seorang Ustadz selalu memberikan Kultum kepada jamaah.
“SEORANG MUKMIM HARUS DIKOREKSI”
kekurangan dari manusia ada dua sisi ; pertama secara fitrah yang memang ada pada dirinya ; kedua, tahu akan kesalahan, tetapi tidak mengakuinya. Setiap tabiat manusia adalah senang dipuji dan benci pada celaan, ingatkah kamu “ Pada hari (ketika) Lidah, tangan dan kaki mereka menjadi saksi atas mereka terhadap dulu apa yang mereka kerjakan” (Qs an – Nur : 24). Selama kesalahan merupakan keniscayaan, maka menerima koreksi adalah bagian dari kesempurnaan.
Setelah usai taraweih dan tadarus, aku dan ibu pulang kerumah dan saling bermaafan kepada kedua orang tua ku dan keluarga ku. Aku berkata kepada ibu……………………
“Ibu …. Tegurlah aku jika aku bersalah”
“ sambil tersenyum ibu berkata…semua manusia tak luput dari kesalahan anakku dan sebagai Ibumu … Ibu akan selalu mengingatkan kamu dan anak – anak ibu apabila mereka sudah berbuat kesalahan yang tidak di anjurkan dalam agama”.
Subhanallah.. kata ibu telah menyejukkan hatiku. Tidak tahu mengapa Ramadhan kali ini aku merasa begitu merindukanMu Ya Rabb.
Jinan berbaring dikasur kamarnya yang empuk, berseprai biru warna kesukaannya dengan aroma deterjen laundry. Beberapa memori muncul dikepalanya, bergantian, acak, datang dan pergi dengan sendirinya. Ia ingat beberapa perilaku yang telah ia lakukan dimasa lalu dan tempat – tempat yang penah ia kunjungi. Aku begitu Hina Ya Rabb, aku manusia penuh dosa, begitu indah nama yang diberikan orang tua ku “Athaya Ghina Jinan” Hadiah dari kekayaan Syurga, tapi nama itu telah aku kotori dengan perbuatan yang tidak terpuji. Di Ramadhan ini aku memohon kepadamu Ya Rabb…bantulah aku menjadi kembali fitrah. Jinan tak mampu menahan kantuknya juga tangannya yang selalu mengusap kedua matanya.
Dihari keenam Ramadhan, Jinan di antar ibu ke dokter untuk kembali theraphy … terduduk lemas di kursi belakang mobil, seperti itulah ia bak orang yang tak ingin bergerak, matanya pun sayu, sesekali ia melihat keluar kaca mobil … seperti itulah ia kalau menuju ke rumah sakit.
Ibu berkata “Kakak” hari ini kamu kan theraphy lebih baik kamu tidak usah puasa hari ini, hanya tersenyum ia membalas perkataan sang ibu.
Ruangan bercat putih dengan perabotan serba putih dan didepannya berdiri seorang laki – laki paruh baya berpakaian serba putih ia adalah seorang dokter yang akan mewawancarai segala tentang dirinya.
Hai … Jinan, apa kabar kamu hari ini ? …….. sapa sang dokter
Masih sama seperti sebelumnya Dok, keadaan tidak bias diakatakan membaik dan memburuk…hanya saja lebih tenang karena sampai hari ini saya masih diberikan kekuatan untuk berpuasa.
Baiklah kita mulai saja theraphy nya ……
Dokter bertanya….apakah kamu tidak ingin membatalkan puasamu.
Sambil tersenyum aku berkata “Saya tidak tahu apakah besok saya masih bisa berpuasa atau tidak dokter…karena vonis yang telah anda katakan, jadi biarkan saya menikmati puasa yang saya jalankan di akhir hidup saya, walaupun penentu umur saya adalah Allah.
Di akhir penghujung Ramadhan kembali Jinan menghadapi beberapa tes laboratorium yang menjadi rutinitasnya selama dua tahun ini…. Setelah hasil Laboratorium keluar, Dokter tersenyum lebar sambil membacakan hasil tes nya.
Subhanallah … Mukjizat itu ternyata diberikan Allah kepadamu nak…. Ramadhan penuh berkah telah memberikanmu kesembuhan dengan keikhlasanmu berpuasa dan beribadah dan doa dari orang tua dan orang – orang yang menyayangimu.Tapi ingat kamu harus tetap rutin berobat dan check ke dokter dan berpola hidup sehat.
“ Allahu Akbar ibu dan aku berucap”…benarkah perkataan dokter tadi…. Dokter tidak sedang bercanda kan…..????
Dokter meng iya kan …………………………………
Sambil menangis aku memeluk ibu…terimakasih atas kecintaanmu ibu berkat kelembutan dan kesabaranmu membimbingku. Terimakasih Ya Allah atas berkah dan rahmadmu….aku berjanji tidak akan meninggalkan perintahmu lagi Ya Rabb.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar